Kamis, 09 Maret 2017

Belajar dari 7 kesalahan


        
Gambar. Frustasi.doc.gatewiyai.

          Para miliarder berkata bahwa "Kesalahan adalah guru terbaik mereka...". Mengapa demikian...? Seperti yang kita ketahui bahwa, tanpa ada perbaikan dari kesalahan seseorang tidak akan pernah mengetahui letak kelemahan yang akan menjadi pijakan kesuksesan mereka, maka ada pepata jaman dulu yang mengatakan, "tak ada gading yang tak retak.." alias "manusia tak luput dari kesalahan...". Para pekerja profesional ternyata menyimpan “penyesalan” berupa kesalahan yang mereka lakukan selama bekerja, terutama di fase awal kariernya mereka di dunia pekerjaan.

          Sebelumnya, saya membaca curhatan Darius Foroux di situs Medium. Darius adalah seorang penulis buku Massive Life Success dengan segudang pengalaman sebagai pekerja dan pengusaha.
Dalam curhat tersebut, Ia membahas hal-hal yang ia harap tidak pernah ia lakukan di dalam kariernya. Dengan kata lain menyesali kesalahan, sebagai bahan pelajaran dan refleksi diri.
Gambar. Animasi Kesalahan.doc.gatewiyai

1. Mengeluh soal pekerjaan di media sosial
          Bisa jadi orang kita nggak niat buat ngeluh, apalagi menjelekkan perusahaan. Mungkin hanya lagi jenuh atau bad mood. Tapi keluh kesah tersebut bakal terpajang di akun kita dan bisa dilihat orang banyak.

2. Buang-buang waktu
          Berapa banyak waktu yang sudah terbuang untuk melakukan sesuatu yang tidak  bermanfaat?
Bukan berarti harus kerja terus-terusan. Quality time sama keluarga atau teman, travelling untuk membuka wawasan, olahraga, melakukan kegiatan sosial dan spiritual, jelas bermanfaat dan nggak membuang waktu.

          Tapi bagaimana dengan waktu yang tersia-siakan buat bengang-bengong, malas-malasan seharian, ngegosip nggak jelas. main game non stop, begadang. Kalau kata mas Darius, “Hiburan itu memang menyenangkan, tapi ‘kan kamu tidak harus selalu nyantai di tiap waktu luang yang kamu miliki.” Darius sendiri mengaku menyesal dengan banyaknya akhir pekan dan malam yang dia habiskan dengan “meaningless”

3. Tidak meminta bantuan
          Ini mungkin karena kepengen mandiri, takut dianggap nggak becus, atau canggung meminta bantuan orang lain. Padahal dalam bekerja, kita butuh masukan, bantuan dan support orang lain, terutama yang sudah senior.

          Kalau menurut Darius, kita tidak bisa sukses sendirian. Dan jika ingin dibantu, kita harus memintanya.

4. Pasif
          Jika menginginkan sesuatu kita harus proaktif, bahkan harus mengejar dan berusaha meraih kesempatan tersebut. Tidak bisa adem-ayem saja.

          Rizky Muhammad, pengusaha yang berpengalaman sebagai pekerja profesional selama belasan tahun mengungkapkan, “Dulu, saya cenderung pasif, nggak bertanya atau minta feedback, dan nggak kelihatan memiliki ambisi. Saya cukup happy dengan pekerjaan dan tanggung jawab yang diberikan.
Walaupun berdedikasi dan bekerja keras, tetapi saya merasa tidak mengekspos diri sendiri untuk mengambil tantangan dan tanggung jawab yang lebih besar.

          Saya baru menyadari kesalahan tersebut setelah 1-2 tahun bekerja. Ketika teman-teman “seangkatan kerja” mendapat promosi lebih cepat, bonus lebih banyak, dan kesempatan yang lebih baik. It was my turning point, yang membuat saya mengevaluasi diri. Akhirnya saya pun berubah menjadi proaktif. Keadaan pun berubah (menjadi lebih baik)."

5. Membuat suatu kelompok suku
          Dari zaman sekolah dan kuliah, biasanya kita akan main dan akrab dengan sekelompok teman yang nyambung dalam kelompok suku.

          Di dunia kerja kelompok suku merupakan sesuatu yang tidak menguntungkan. Ditambah lagi kalau kamu dekat dengan orang-orang yang “salah”. Misalnya, punya reputasi yang kurang oke, atau punya masalah dengan banyak orang. Ujung-ujungnya kamu jadi kecipratan image tersebut,
Tambahan lagi, dekat dengan kelompok tertentu bisa bikin kamu terlihat kurang profesional.

6. Mengutamakan uang

          Okay, salah satu tujuan kita bekerja adalah memperoleh penghasilan. Namun, itu bukan satu-satunya tujuan.

          Menurut Darius, kita juga harus mempertimbangkan hal lain yang justru lebih berharga, seperti pelajaran apa yang bisa kita dapatkan dari pekerjaan tersebut? Apakah perusahaan tersebut membuat diri kita bersemangat? Apakah bisa membantu orang lain?

          Kalau uang yang menjadi patokan, maka dari pengalaman Darius, inilah yang akan terjadi:
1. Ujung-ujungnya kamu akan “jualan” alias menjalankan tugas berhubungan dengan sales, dan       pekerjaan tersebut nggak kamu sukai.
2. Kamu akan menjadi pengusaha atau pekerja lepas yang super agresif dengan orientasi “berjualan”.
3. Kamu akan mengerjakan pekerjaan yang berlawanan dengan hati nurani kamu.
Jadi, jangan pernah menjadikan uang sebagai prioritas utama.

7. Merasa di posisi aman

          Jadi seseorang yang berprestasi, punya skill mumpuni, mampu menyelesaikan pekerjaan dengan baik? Yup, kamu pantas berbangga, tapi jangan pikir kamu sudah aman, dan dengan mudah kariermu semakin bersinar.

          Dunia terus berkembang dan akan muncul pesaing baru. Maka kamu harus terus meningkatkan dan mengembangkan skill yang dimiliki. Kalau kamu merasa sudah jago dan berada di posisi aman, kamu bakal stuck.

Mudah-mudahan kamu bisa belajar dari kesalahan dan "penyesalan" ini, ya...

Editor : Gideon M. Adii